Diposkan pada Story

Sybilline

Day 96: Time running out

.

Di Bawah Rembulan dan Bunga Api

.

Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca. Suara bisik mulai terdengar di telinga nya. Buku ditangan nya, penanda diantara halaman buku. Dunia yang berbeda, kenyataan dan imajinasi.

‘Beberapa jam lagi?’

“Mau lihat kembang api?” mataku menatap manik hitam milik kakak. Aku membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Menghela nafas berat. Aku melambaikan tangan kepadanya. 

“Oke. Jangan lupa obat mu sebelum tidur.” Suaranya mulai menghilang, menjauh seiring dengan langkah kakinya.

Mengalihkan pandanganku kearah jendela. Aku menemukan sumber yang telah membangunkan ku. Langit cerah berwarna jingga. Beberapa burung terbang melewati bangunan-bangunan tinggi.

.

.

.

“Yakin? Gak mau ikut?” untuk sekian kali nya kakak perempuanku menanyakan hal yang sama. 

“Ya ya ya. Hus, Mai mau tidur.” Melirik pada jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Aku memutar badan, berjalan menuju kamar milikku.

“Jangan tidur lewat jam dua belas!” Suara kakakku terakhir kalinya sebelum ia menutup pintu depan apartemen.

‘Dua jam lagi..’

Memasuki kamar, cahaya rembulan memasuki sebagian ruang ku. Dengan segera aku mengambil buku dari atas meja menduduki sofa tepat disebelah jendela. Suasana tenang memenuhi tubuhku.

Meja kecil disamping kiri sofa terisi oleh obat dan segelas coklat hangat. Menaikan alis ku seraya memandangi segelas coklat hangat.

.

.

‘Pukul 23.45..’

Layar ponsel bersinar di depan wajah ku. Buku yang beberapa saat lalu aku baca masih tergeletak di pangkuan ku.

.

‘23.56’

Bunyi kembang api meledak jauh dari aku berada dapat terdengar di telinga ku. Bahkan beberapa kembang api terlihat dari tempat duduk ku. Tanganku dengan spontan menyentuh kepalaku yang berdenyut.

.

‘23.58’

Perasaan tidak enak seakan menguasai ku. Aku bangkit dari sofa dengan cepat tidak memperdulikan buku yang tergeletak. Pandanganku mulai memburam.

.

‘23.59’

Tidak sanggup menahan diri, aku terjatuh kearah sofa. Tanganku dengan gesit menelpon kakakku. Aku dapat merasakan sesuatu mengalir dari hidungku.

.

.

‘00.00’

Badan anak perempuan itu terjatuh tepat dinyalakan nya berbagai macam kembang api. Layar ponsel berkedip, “Halo ? Halo ?? Mai?”

.

.

Post 17/12/2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s