Diposkan pada Story

Sybilline

Day 129 : Write about someone who is in their own little bubble.

.

Perempuan Merah

.

Andai saja semua nya tak ada. Andai saja kala itu tak pernah terjadi. Mungkin semuanya akan baik-baik saja. Tak ada perlu kesusahan. Tak perlu memandang penuh kasihan. Dan perempuan itu masih dapat tersenyum tanpa memikirkan berbagai hal yang seharusnya tak perlu terjadi.

Suara melengking memenuhi ruang dengan dinding putih. Seperti biasa dinding itu menyaksikkan lagi episode-episode kelam sang perempuan yang terus tak dapat merasakan apapun. Masih seperti ia pertama masuk ruangan itu.

Tak ada yang berani menatap perempuan itu. Perempuan itu pun tak pernah keluar dari khayalan yang tak berujung. Sengsara dalam imajinasi yang kelam. Rambut merah bagai api membara tak lagi sama, berantakan dan kusut. Mata coklat syahdu memandang jendela. Mengakhiri episode miliknya. Walaupun esok ia akan me-replay– semuanya.

Suara kikikkan menaikkan bulu kuduk setiap individu yang melewati ruangan tanpa ada plat nama di depannya. Tak diperlukan lagi. Hampir semua orang mengenal perempuan itu. Dengan pengecualian para pendatang baru.

“He-he-hehe-hehehe-he…” suara lembut itu penuh dengan kebahagian palsu yang aia buat sendiri. Di dalam kepalanya. Di antara rumus dan kegeniusan tiada tara.

Memasuki tahun ke tiganya di ruangan itu. Perlahan-lahan, tidak ada lagi kunjungan dari sang keluarga. Perempuan itu tidak lagi memperdulikan para keluarga tercintanya. Bagi perempuan itu semunya dapat ia buat sendiri di dalam otaknya. Jadi ia tak butuh lagi tatapan sedih, kasihan dari mereka, orang-orang palsu yang mementing diri sendiri.

Hari yang sama perempuan itu menatap piring di depannya. Sebuah sendok di tangan kanannya. Tanpa berkedip perempuan iru melemparkan semua makanannya. Keadaan kembali kacau para monster-monster mengerikan yang selalu di gumamkan wanita itu datang. Berusaha melerai keagresifan perempuan berambut merah.

Ketika perempuan itu telah tertidur kembali ke dalam gelembung mimpinya. Para monster-monster yang selalu menjadi panggilan dari perempuan berambut merah itu, berbisik-bisik dengan nada rendah.

“Mereka bilang ayah perempuan itu akan memutuskan untuk mengakhiri semuanya.” Suara bagaikan gong di ruang sunyi. Wanita itu berada di gelembungnya, menyadari apa yang dikatakan beberapa detik yang lalu.

“Akhirnya!” teriak wanita itu terbangun dari gelembung miliknya. Ayah nya memutuskan.

.

. 2/4/2019