Diposkan pada Story

The World Around Me

Day 1 : Observe the world around you.

Genre: General

One-shot/Cerpen


Hari seperti biasa hari yang membosankan terrbangun dari tidurku. Mataku mencari jam weker disamping tempat tidur. ‘05.24’ jelas terpajang disana. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju kamar mandi.

Keluar dari kamar mandi aku memasang seragam berwarna biru putih itu. Aku mengangkat tas punggung coklat dan keluar dari kamarku.

Sepi adalah kata pertama yang muncul di kepala ku. ‘tentu saja mana mungkin kakak bangun jam segini..’ aku membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah apel berwarna merah muda. Aku membilasnya dengan air. Mengambil satu botol air mineral di samping kulkas aku berjalan menuju kearah  pintu keluar. Memasang sepatu ku, aku dengan segera keluar sambil mengigit apel ditanganku.

Apartemen ini dibelikan oleh kedua orang tuaku. Aku tinggal bersama kakak perempuan ku satu satunya. Dikarenakan kedua orangtuaku sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Sebagai anak yang baik aku hanya mengiyakan semua yang dikatakan mama atau pun papa.

Aku tersenyum kepada bibi mel yang keluar dari lift. Bibi Mel adalah salah satu tetangga ku di apartemen ini tentu banyak yang mengenalku. Aku menekan nomor lantai satu.

Siapa sih yang ngak kenal dengan anak dari perusahaan ini. Mungkin itu yang akan dikatakan kakakku. Jika seseorang menanyakanku bagaimana menjadi anak orang kaya. Jawabanku spontan menyebalkan, bagaimana tidak orangtua yang berkerja seharian hampir tidak mengingatmu atau hanya memperdulikan pekerjaan mereka masing masing.

Ting! Aku dengan cepat keluar dari lift. Menghampiri salah satu tong sampah aku membuang sisa dari apel yang baru beberapa saat yang lalu aku keluarkan dari kulkas.

“Pagi, Arion.” Tinggi, jakung, senyum ramah adalah ciri khas dari Pak Amir. Ia adalah satpam apartemen kami. Ia juga sangat mengenalku. Aku membiarkan senyum kecil muncul diwajahku

“Pagi, pak.” Seruku sambil melambaikan tangan meninggalkan komplek apartemen.

Aku berjalan mennunggu di halte bus yang masih sepi dari pengguna nya. Hanya beberapa anak sekolah berpakaian merah, biru dan abu-abu. Dan pekerja kantor yang ingin menghindari kemacetan lalu lintas yang sering terjadi diwilayah ini.

Aku segera memasuki bus yang datang. Tampak masih sepi penguna. Melirik kearah jam tanganku ‘06.22’tentu saja jam segini masih sepi. Aku melirik sekitarku mengamati apa yang bisa aku amati. Anak sekolahan, orang perkantoran, ibu-ibu dari pasar, dan seterusnya. Mata ku kembali menatap kearah jendela. Kabut sedikit menghilang dan tidak separah tadi saat aku keluar dari komplek apartemen.

Aku keluar dari bus dan langsung berjalan menuju sekolah ku salah satu sekolah menengah pertama yang cukup miliki nama di wilayah sini. Didepanku telah banyak siswa lainnya yang menuju kesekolah diantar atau menggunakan angkutan umum.

“Yo, Rion.” Aku memutarkan badanku menghadap cowok yang kurang lebih fisiknya sama denganku perbedaannya terlihat dimataku dan dirinya. Ia memiliki mata hitam yang sangat jernih sedangkan aku berwarna biru tua.

“Hum..Aryan” sapaku lebih tepatnya hanya sebuah gumaman dan nama yang tidak lain milik pemuda didepanku. Aku memutar bola mata ku dan lanjut berjalan. Aryan hanya tersenyum dan mulai bercerita tentang harinya. Jujur saja aku dan Aryan memiliki watak yang berbeda, jika Aryan ramah tersenyum dan terkesan ramah, aku jarang tersenyum apa lagi tertawa dengan orang lain aku lebih terkesan dingin dimata orang lain.

Aku menatap gerbang didepanku dan terus berjalan melewati  tangga menuju kelas I dan H. Menuruni tangga dan menaiki tangga aku segera berbelok menuju kelas di akhir koridor, kelas IX-A.

Aryan langsung menyapa teman teman lainnya yang sudah datang sebelum kami. Aku hanya mengabaikan mereka dan masuk kedalam kelas menuju kursi di pojok dekat dengan jendela. Dimana kau biasa dapat dengan tenang memikirkan duniaku yang damai ini.

Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah dimulai. Semua siswa menduduki bangku masing masing sambil bercerita dengan teman sebangku mereka. Aryan disebelahku berbicara dengan Tommy didepan nya. Cowok yang pintar dalam olah raga satu ini merupakan salah satu bintang populer disekolah.

Aku memandang langit biru. Melupakan kabut yang tadinya menutupi pemandangan ini. Aku kembali berpikir mengenai apa yang aku mau, apa minat ku dan apa bakatku. Pertanyaan yang aku utarakan kapadaku sendiri dan juga belum menemukan jawaban nya diduniaku yang damai ini. Aku akan tetap mengatakannya seperti itu walaupun aku tau diluar sana banyak yang tidak seberuntung diriku.

“Dimana mereka mempunyai hidup yang sengsara, menyakitkan, menyedihkan. Bahkan untuk makan tidak mempunyai uang…..” kata kata Ibu Ami bergema dikepalaku. Sudah berapa lama ibu ini masuk. Aku tidak dapat sedikitpun berkonsentrasi terhadap apa yang ibu ini ceritakan. Kelas terlihat sedikit gaduh juga tidak membuatku mudah untuk berkonsentrasi. Aku memutuskan untuk memandangi seisi kelasku. Anak yang kutu buku anak yang sok gokil anak yang ingin diperhatikan anak yang rajin anak yang bermacam jenisnya. Mungkin dimata guru aku adalah anak rajin nan pendiam. Namun aku sendiri sangat ribut hanya didalam pikiranku. Aku memandangi kembali kearah langit.

Siapa aku sebenarnya…?”


END